Rabu, 24 April 2013

Salahudin Al-Ayyubi (Saladin)


Shalahuddin Al-Ayubi terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.


Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Sholahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin/salahadin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam. Satu konsep dan budaya dari pahlawan perang ini adalah perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Sholahuddin. Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Sholahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memrovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Sholahuddin. Dalam kemiliteran Sholahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal.

dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.


Data lengkap tentang King Salahudin Al-Ayubi
Memerintah 1174 M. – 4 Maret-1193 M.
Dinobatkan 1174 M.
Nama lengkap Yusuf Ayyubi
Lahir 1138 M. di Tikrit, Iraq
Meninggal 4 Maret-1193 M. di Damaskus, Syria
Dimakamkan Masjid Umayyah, Damaskus, Syria
Pendahulu Nuruddin Zengi
Pengganti Al-Aziz
Dinasti Ayyubid
Ayah Najmuddin Ayyub


Selain dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin/salahadin mendapat reputasi besar di kaum Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak ingin menengoknya. Bahkan di salah satu tembok Masjid Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang dipermak jadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, seorang sejarawan masih menemukan sisa inskripsi ini: "Kerajaan-Mu, ya, Kristus, adalah kerajaan abadi...."

Tapi jika masa lalu tak mudah pergi, dari bagian manakah dari Saladin yang akan datang kepada kita kini? Dari ruang makamnya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Kisah Saladin adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita dahsyat bagaimana agama-agama telah menunjukkan kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan ilham pengorbanan - yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan.

Tapi sebagian besar kisah Saladin - yang tersebar baik di Barat maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad ke- 12 itu - adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah. Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187. Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah juga, yang dilakukan Saladin bukanlah menjadikan penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun 1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

"Anakku," konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya, az-Zahir, menjelang wafat, "...Jangan tumpahkan darah... sebab darah yang terpercik tak akan tertidur."

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, kita toh tahu, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja Richard Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. Terutama ketika orang hanya mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah zaman yang penuh peperangan. Tapi pentingkah sebenarnya masa silam?

Dari makam telantar orang Kurdi yang besar itu, suatu hari di tahun 1970-an, saya kembali ke pusat Damaskus, lewat lorong bazar yang sibuk di depan Masjid Umayyah. Kota itu riuh, keriuhan yang mungkin tanpa sejarah.

l9 Januari 1991
(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4, Grafiti, 1995, h.
388-390)

Ref : 
http://yulian.firdaus.or.id/
http://m0emets.blogspot.com/2007/11/salahudin-al-ayubi.html

Sabtu, 09 Maret 2013

Drawing On The Sketchbook

 Ini dia lembar pertama Sketchbook gue. Berisi gambar ilustrasi pertama yang gue buat di buku sketsa gue yang masih terhitung baru.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4167476519833&set=a.4167474079772.1073741826.1671792403&type=1&theater
Ini dia ilustrasi dongeng "Wortelina dan Pangeran Lobak" yang ada di film Perahu Kertas. Gue membuat ilustrasi ini meniru ilustrasi dari film Perahu Kertas. Gue screenshoot frame yang sedang menampilkan gambar ini, terus gue mulai menggambarkannya di buku sketsa gue. Terlihat mirip bukan? Sekilas memang terlihat mirip, tapi kalau diperhatikan secara seksama dan dibandingkan dengan yang di film. Itu beda, mulai dari jarak antar gambarnya, ukurannya, sampai arsirannya.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4167476119823&set=a.4167474079772.1073741826.1671792403&type=1&theater

Rabu, 20 Februari 2013

Sebuah Mimpi dan Realita


Mencari kerja demi eksistensi, atau mempertahankan mimpi demi idealisme? Kalau kalian dihadapkan pada kedua pilihan dari realitas hidup itu, mana yang akan kalian pilih?
Setiap dari kita punya mimpi, punya hobi, dan punya kata hati, tapi tak semua dari kita berkesempatan untuk menjadikan sebuah mimpi itu menjadi profesi. Itulah realitanya.

Kamis, 07 Februari 2013

Berinteraksi Lebih Lanjut

Berinteraksilah dengan Firman. Salah satu personil The Calang Boys di:



Fanpage: https://www.facebook.com/pages/The-Calang-Boys/183549918363486

Rabu, 06 Februari 2013

Nadya Fatira - A New World

these days are gonna be those days
which I'll look back with a happy smile
and a twinkle in my eyes
and life I'll never be the same
a different life than the one we've had
from our simple, fun, fairytales

it's strange, it's a new, new world
it's loud, it's a hectic world
and I miss my home, I miss myself
and I miss you
and yet, I finally found that love
inside my soul
and I jump in joy and I sing my heart away

your face is gonna be that face
that I'll lokk back with a loving smile
and a warm glow in my heart
and love ill never be the same
a kind of love that I  hold so dear
yet I'm ready to let it go

will you remember how we are?
will you stay with me when I try
to be a better one for you?
in this new world..

Sabtu, 02 Februari 2013

Ketentuan dan tips untuk memperkuat daya pikat karya sastra

Setiap kata dalam karya sastra harus dipilih dengan cermat dan apik, setiap konflik dimunculkan dengan momen yang sudah diperhitungkan, setiap tokoh dan penokohan harus dideskripsikan dengan apik cermat dan dimunculkan dalam momen yang pas pada suatu konflik.

Kamis, 24 Januari 2013

What's Wrong With Me?

Posting pertama di tahun ini, 2013. Tahun yang terdengar aneh nan asing. Walaupun sempat beredar isu kiamat di tahun 2012 tapi pada keadaan aslinya itu tidak terjadi, tapi ini mungkin bisa dibilang kiamat bagiku.
IP, siapa sih yang nggak pernah dengar istilah itu? IP yang saya maksud di sini bukan "Internet Protocol" tapi "Indeks Prestasi", itu dia masalahnya, dan apa yang aku sebut kiamat? Itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan IP itu sendiri.
Hari ini rasanya begitu pahit, IP memang belum keluar, tapi aku merasa gamang akan hasilnya nanti. sempat beberapa hari lalu mendapat kabar baik seputar nilai 2 mata kuliahku, hari ini aku terhempas dan jatuh tanpa parasut. "What's Wrong With Me?" Mungkin itulah istilah yang tepat bagiku karena aku tidak tahu mengapa semuanya harus terjadi. Aku kalut, risau, galau, gundah, dan sendu. Bagaimana ekspresiku nanti saat melihat IP ku? itu sama sekali tidak terpikirkan olehku, memikirkannya saja takut. Apalagi saat menghadapi realitanya nanti.
Tapi walau bagaimana pun, yang namanya "Realita" itu harus dihadapi. Bagaimana pun hasilnya nanti, aku pasrahkan kepada-Nya. Semoga ada keajaiban yang datang untukku. Secercah harapan.